Alex Bajawa lawan Youngyuth

PETINJU kebanggaan NTT asal Bajawa, Ngada, Alex Bajawa akan melawan Adam Youngyuth (Thailand) dalam partai tambahan mengiringi tarung wajib antara juara dunia kelas bulu WBA, Chrisjon melawan Roinet Caballero dari Panama di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2008).
Selain Alex, tiga partai tambahan lainnya, yakni Angky Angkota (Indonesia) melawan Tingting Epura (Filipina) dan Andre melawan Samsedo (Australia) dan di kelas berat bakal mempertemukan petinju Australia melawan Selandia Baru yang belum diketahui namanya.
Demikian Chrisjon ketika dihubungi dari Semarang, Jumat (18/1/2008). "Saya tidak tahu, apakah saya tampil paling akhir atau di sela-sela pertarungan partai tambahan," kata petinju yang dijuluki The Dragon itu.

Selain empat partai tambahan, tarung wajib Chrisjon melawan Caballero akan diisi konser musik Anggun Cipta Sasmi, penyanyi Indonesia yang sudah melanglang buana ke luar negeri. Dari Indonesia penyanyi Tua-Tua Keladi ini akan konser di Perancis.

Setelah beberapa hari berlatih di Sasana Mirah Boxing Banyuwangi, Chrisjon saat ini berlatih di Sasana Mirah Boxing Bali pimpinan Zainal Thayib. "Saya bertolak ke Jakarta hari Sabtu (19/1/2008), dan masih ada sisa waktu sekitar satu minggu untuk persiapan sebelum naik ring melawan Caballero," katanya.

Ketika ditanya konsentrasi latihan di Jakarta, suami mantan atlet wushu Jateng, Anna Maria Megawati itu mengatakan, selama di Jakarta, dia akan konsentrasi untuk penyesuaian cuaca dan penurunan berat badan. Ia menyebutkan, berat badannya sekarang antara 61-62 kilogram. "Saya harus menurunkan berat badan dua hingga tiga kilogram untuk mencapai berat ideal di kelas bulu," katanya.

Pertarungan terakhir yang dilakoni Chrisjon untuk mempertahankan gelar yang direbut tahun 2003 adalah melawan petinju Jepang, Zaiki Takemoto di Kobe, Jepang, 19 Agustus 2007. Tarung wajib terakhir adalah melawan petinju Venezuela, Jose Che Rojas di Jakarta 3 Maret 2007. (ant)
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Prioritas Kesehatan dan Fisik Atlet

UNTUK tahap pertama Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON XVII 2008, KONI Propinsi NTT memusatkan perhatiannya pada masalah kesehatan dan fisik atlet. Setelah dua pekan lalu para atlet diperiksa kesehatannya, maka untuk dua minggu ke depan fokus pada ujicoba ketahanan fisik. Hal tersebut terungkap dalam rapat evaluasi pelaksanaan Pelatda di Sekretariat KONI Propinsi NTT, Sabtu (19/1/2008).

Rapat tersebut dipimpin Ketua Tim Teknis Pelatda, Drs. Hosea Dally. Hadir juga Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, anggota tim teknis dan pelatih cabang kempo, atletik, pencaksilat, sepaktakraw dan taekwondo. Sementara tim pelatih cabang tinju tidak hadir.

"Sesuai hasil rekomendasi dari tim dokter RSU Johannes Kupang, ada beberapa atlet yang perlu mendapatkan perhatian serius. Okelah kalau saat ini belum ada keluhan dari mereka, namun rekomendasi dari dokter harus terus diawasi. Artinya, kalau mereka merasa pusing atau sakit saat latihan, berikan dia kesempatan istirahat sampai benar-benar pulih. Sementara untuk masalah fisik, tim teknis harus selalu berkonsultasi dengan tim pelatih, karena setiap cabang memiliki perbedaan. Latihan fisik untuk nomor seni tidak sama dengan perkelahiran bebas atau permainan," ujar Esthon.

Hosea Dally mengatakan tim teknis menyerahkan sepenuhnya masalah kepelatihan kepada tim pelatih tiap cabang. Namun, kata Dally, mereka akan terus memantau pelaksanaannya sesuai jadwal dan program latihan yang sudah disusun tiap cabang. "Berdasarkan pengalaman, banyak atlet kita yang berprestasi meski dari sisi medis tidak layak. Tapi, itu jangan jadi patokan kita untuk tidak memperhatikan atlet kita yang direkomendasikan mengalami gangguan. Secara keseluruhan, tidak ada yang sangat prinsip terhadap masalah kesehatan para atlet," ujar Hosea Dally.

Mantan Bupati Alor ini sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap tim pelatih tinju yang tidak hadir tanpa pemberitahuan. Kehadiran pelatih dalam rapat evaluasi, kata Dally, sangat penting untuk memberi masukan terhadap semua kejadian dalam latihan. "Kami akan memberikan surat resmi kepada tim pelatih tinju untuk lebih disiplin. Disiplin yang baik dari seorang pelatih akan berpengaruh pada atletnya. Kami akan tegas mengenai hal ini," kata Dally. (eko)
Lanjut...

Posted in Label: , , | 0 komentar

NTT Menuju PON 2008 (2)

Oleh wartawan Pos Kupang, Sipri Seko
GEBRAKAN yang dilakukan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur (Pemprop Kaltim) untuk mempromosikan daerahnya harus diacungi jempol. Tak tanggung-tanggung mereka mengajukan penawaran ke KONI Pusat untuk menanggung semua biaya penyelenggaraan termasuk akomodasi dan konsumsi peserta bila ditunjuk menjadi tuan rumah.

Sukses memperjuangkan impiannya menjadi tuan rumah, Kaltim terus melakukan manuvernya. Sukses menjadi tuan rumah, mereka juga ingin sukses meraih prestasi. Semua atlet terbaik Indonesia 'direkrutnya' dengan janji bonus berlimpah dan pekerjaan. Kaltim masih berhasil. Semua atlet Indonesia yang merasa kalau selama ini 'kurang diperhatikan' daerahnya memilih bergabung. Hal inilah yang kemudian menimbulkan masalah terkait alih status dan transfer pemain yang hingga kini masih terus dipergunjingkan

Daerah-daerah yang atletnya dicaplok Kaltim, melakukan protes ke KONI Pusat. Aturan tentang perpindahan pemain pun dibuat. Namun, KONI Pusat sudah terlambat, karena Kaltim sudah lebih dulu mendapatkan atlet incarannya. Kaltim ingin dana yang dikeluarkan untuk menjadi tuan rumah, 'dibayar' dengan prestasi minimal menjadi lima besar pengumpul medali terbanyak pada PON XVII 2008.

Aksi Kaltim juga dirasakan oleh KONI Propinsi NTT. Setelah mengeluk-elukan mereka sebagai pahlawan Flobamora, Oliva Sadi, Ferry Subnafeu, Kamilus de Lero, Mansyur Yunus dan Yules Pulu memilih hengkang ke Kaltim. Bonus uang yang diberikan Pemprop dan KONI NTT dan donatur lainnya serta janji diluluskan menjadi PNS tidak mempan menahan mereka. Oliva cs tetap hengkang. Ini menjadi tantangan baru yang terberat bagi NTT.
***
NTT kini sudah kehilangan delapan medali emas yang diraih NTT pada PON XVI 2004 lalu. Oliva Sadi yang merebut dua medali emas, Ferry Subnafeu, Mansyur Yunus, Kamilus de Lero dan Yules Pulu yang masing-masing menyumbang satu emas kini sudah menjadi milik Kaltim. Lalu, apakah dua emas lainnya masih jadi milik NTT?

Tidak! Hermensen Ballo, si raja kelas terbang nasional telah gantung sabuk. Morits Saubaki, penyumbang satu emas lainnya gagal lolos ke Kaltim 2008. Dan, jangan lupa bahwa Oliva Sadi juga 'membawa' satu medali perak yang direbutnya dari nomor lari 1.500 meter. Lalu, sanggupkah 46 atlet NTT yang saat ini sedang dipersiapkan ke Kaltim 2008 mencapai prestasi delapan medali emas dan satu perak itu? Sanggup! Tidak ada jawaban lain!

Selain atletik yang merupakan cabang olahraga terukur, prestasi cabang lainnya tidak bisa dihitung secara matematis. Prestasi 2008 masih misterius. Jawabannya tergantung persiapan. Bagaimana menyusun program latihan menuju arena sesungguhnya yang paling penting untuk dibahas, dan bukan mengejar target yang harus terus didengungkan. Sehebat dan seperkasa apapun seorang atlet saat kualifikasi, belum tentu hasilnya akan sama pada pertarungan sesungguhnya.

Jawaban untuk mengejar prestasi ada dalam diri sendiri. Diri para atlet, pelatih, pengurus dan masyarakat olahraga NTT. Seorang atlet harus memiliki tekad untuk menjadi pemenang. Tantangannya adalah latihan yang disiplin dan terprogram. Seorang pelatih akan sukses kalau dia mampu menerjemahkan program latihannya. Pelatih juga harus tahu bahwa olahraga sudah tidak bisa terlepas dari pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Dukungan pengurus baik finansial dan manajemen harus total. Sedangkan masyarakat dengan caranya masing- masing harus memberikan dukungannya.

Mempersiapkan atlet dengan program yang sistematis, hasilnya pun pasti optimal. Seorang pelatih harus mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan tujuan dan manfaat teknik yang diajarkan kepada atletnya. Dia harus tahu, kapan seorang atlet mencapai puncak prestasinya. Lihat saja hasil yang dicapai kempo saat kualifikasi. Diunggulkan untuk meraih prestasi, kenshi-kenshi NTT 'sudah kehabisan nafas' hanya untuk latihan. Saat pertarungan, mereka jadi bulan-bulanan karena sudah tidak memiliki daya.

Dengan jumlah atlet yang lebih banyak, dipilih dari enam cabang yang diunggulkan, KONI NTT memiliki impian untuk memaksimalkan potensi yang ada. Jumlah bukan jadi ukuran, karena kualitas lebih dikedepankan. Tantangan meraih prestasi baru saja dimulai. Tidak ada alasan untuk menunda apalagi berleha-leha. Lebih baik 'mandi keringat' dan 'mandi darah' saat latihan, daripada 'mandi keringat' dan 'mandi darah' saat pertandingan. (habis)
Lanjut...

Posted in Label: , , , | 0 komentar

NTT Menuju PON 2008 (1)

Oleh wartawan Pos Kupang, Sipri Seko

PELAKSANAAN PON XVII 2008 kali ini di Kalimantan Timur (Kaltim) akan memiliki nuansa yang beda. Beda, bukan karena Kaltim yang menanggung semua biaya akomodasi dan konsumsi peserta --sampai saat ini belum final. Bukan juga karena saat itu Kaltim akan dipimpin gubernur baru yang akan dipilih satu bulan menjelang perhelatan PON XVII dilangsungkan.

Bukan juga karena pada saat yang bersamaan akan ada pesta sepakbola terakbar di Eropa, Euro 2008. Yang beda adalah buat masyarakat NTT. Saat duta-duta olahraga NTT sedang berlaga di Kaltim, di Bumi Flobamora juga akan ada kompetisi. Rakyat NTT akan melakukan kompetisi politik, pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Secara nasional, mungkin PON yang jadi perhatian. Dunia akan melihat Euro 2008. Namun, masyarakat NTT pasti ingin ikut masuk dalam permainan politik.

Akankah itu semua akan mengganggu prestasi anak-anak NTT. Apakah nama dan panji Flobamora akan dikumandangkan di Kaltim? Ataukah atlet-atlet kita justru menjadi bulan-bulanan karena persiapan yang kurang maksimal akibat minimnya perhatian pemerintah.

Tapi, perjuangan dan kompetisi politik beda dengan dunia olahraga. Atlet-atlet NTT tidak boleh terkecoh dengan hingar bingar politik. Boleh-boleh saja mendukung figur tertentu, tetapi prestasi dengan kalungan medali di leher saat pulang dari Kaltim adalah kebanggaan yang tak akan ternilai.
***
Hingga saat ini sudah resmi tercatat 46 atlet dari enam cabang olahraga yang lolos ke Kaltim. Bila dibandingkan dengan PON XVI 2004 lalu di Palembang-Sumatera Selatan, maka jumlah kali ini lebih besar. Tahun 2004 lalu, KONI Propinsi NTT meloloskan 36 atlet dari sepuluh cabang olahraga.
Peningkatan jumlah atlet yang lolos dari sedikit cabang olahraga yang lolos juga karena kebijakan KONI yang hanya merekomendasikan sembilan cabang olahraga (cabor) untuk mengikuti kualifikasi (pra) PON. Dari sembilan cabang itu, sepakbola, karate dan angkat besi, berat dan binaraga gagal meloloskan atletnya, sedangkan yang lolos adalah, atletik, kempo, tinju, pencaksilat, taekwondo dan sepaktakraw. Namun, sanggupkah 44 atlet dari enam cabang olahraga yang katanya direkomendasikan karena memiliki kualitas prestasi nasional menyamai hasil tahun 2004?
Delapan medali emas, empat perak dan empat perunggu adalah capaian tertinggi NTT dalam sejarahnya mengikuti PON sejak tahun 1961. Tantangannya akan berat, bukan hanya karena saat itu NTT akan disibukan oleh pemilihan kepala daerah. Berat, karena hasil yang dicapai saat kualifikasi tidak maksimal.
Sepaktakraw hanya bisa lolos dari nomor yang bukan bergengsi. Adriana Waru dan Mery Paijo yang lolos dari cabang atletik hanya lolos dari urutan keempat dan lima --ukurannya limit waktu. Pencaksilat mungkin satu-satunya cabang meraih hasil menggembirakan. Kalau sebelumnya hanya bisa meraih perak, kali ini Oktoviana Malelak malah menyumbang medali emas untuk bersama Agatha Trisnawati, Nurningsih U Bara dan I Putu Gede lolos.
Prestasi juga diraih cabang taekwondo. Meski gagal meloloskan dua andalannnya, Isak Petruzs dan Agus Sentono, namun meloloskan delapan atlet adalah prestasi tertinggi yang pernah dicapai anak-anak asuhan Daniel Adoe dan Hari Teopilus ini. Cabang tinju, yang selama ini menjadi lumbung medali NTT, hanya Yanto Fallo yang bisa merebut medali emas, sementara tujuh atlet lainnya hanya bisa mencapai target lolos.
Sementara kempo yang mencatat hasil spektakuler saat PON XVI 2004 lalu kali ini malah jadi bulan-bulanan lawan. Lolos untuk 18 dari 15 kenshinya, kempo hanya bisa meraih satu medali emas lewat Veronika 'Ayu' Hakim. Hal ini jelas bertolak belakang dari hasil saat pra PON XVI 2004 lalu di Denpasar-Bali dengan meraih runner-up perolehan medali --kualifikasinya bertitel kejuaraan dunia dan kontingen Jepang yang menjadi juara umum.
Tapi, atlet-atlet NTT tidak berkecil hati. Keyakinan akan kualitas diri yang dimiliknya membuat mereka selalu menjadi yang terbaik kala sudah berlaga di arena sesungguhnya. Minim dana bukan jadi halangan untuk berprestasi. Hingar bingar pesta politik harus dibiarkan berjalan sesuai relnya. Yanto Fallo dkk harus diberi tekad untuk menjadi juara karena kualitas dirinya. Mereka harus diasah untuk mendapatkan kemampuan terbaiknya dengan tulus.
Tekad Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, untuk memantau dan mengevaluasi secara ketat pelaksanaan Pelatda harus didukung. Para pengurus cabang olahraga harus ikut memantau pelatih dan atletnya untuk berlatih dengan disiplin. Satu yang harus menjadi catatan adalah bahwa Pelatda bukanlah sebuah proyek yang harus dilalui dan dilewati sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Tetapi Pelatda harus dimaknai sebagai sebuah keseriusan menuju prestasi yang dinanti. (bersambung)
Lanjut...

Atlet Binaraga NTT sudah Berprestasi

SAAT ini, di Propinsi NTT, binaraga masih dianggap sebagai olahraga yang mahal dan belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Namun, binaraga NTT secara nasional sudah memiliki presytasi yang cukup tinggi. Demikian dikatakan Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya ketika membuka kejuaraan daerah (kejurda) binaraga Danrem 161 Wirasakti Cup 2007 di Flobamora Mall, Sabtu (24/11/2007).

"Binaraga di NTT sebenarnya sudah cukup diminati. Sebagai Wakil Ketua Umum KONI NTT, saya mengucapkan profisiat dan terima kasih kepada Pengprop PABBSI NTT yang berhasil menjalin kerjasama dengan Danrem 161 Wirasakti untuk menggelar event yang sangat penting ini. Saya minta kepada semua atlet agar mengerahkan semua potensi yang dimilikinya, agar bisa melahirkan prestas-prestasi yang bisa mengharumkan nama NTT di tingkat nasional," ujar Lebu Raya.

Sementara, Danrem 161 Wirasakti Kupang, Brigjen Arief Rachman dalam sambutan mengatakan bahwa dukungannya terhadap kejuaraan tersebut adalah karena dia tahu bahwa potensi para juara ada di NTT.
"Ada bukti bahwa binaragawan-binaragawan NTT sudah berprestasi di tingkat nasional. Saya sebut saja, Made Dwija yang merebut medali perunggu Master Indonesia 2007. Ini adalah prestasi yang spektakuler yang membuat nama NTT cukup disegani di tingkat nasional," ujar Arief Rachman yang sudah dimutasi ke Mabes TNI namun karena belum ada penggantinya, maka dia tetap merangkap menjadi Danrem 161 Wirasakti Kupang.

Ketua Pengprop PABBSI NTT, Ir. Andre Koreh mengatakan bahwa kejuaraan tersebut diikuti oleh binaragawan-binaragawan terbaik di NTT. PABBSI, kata Koreh, merupakan organisasi resmi yang menaungi olahraga binaraga di Indonesia dan dunia. Untuk itu, dia mengatakan harapannya agar semua atlet potensial mau bergabung dengan PABBSI NTT untuk dibina lebih baik lagi. *

Made Dwija terbaik

SEPERTI diprediksi sebelumnya, peraih medali perunggu Master Indonesia 2007, Made Dwija tampil sebagai the best pose & the best body building 2007 dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Binaraga Danrem 161 Wirasakti Cup 2007 di Flobamora Mall, Sabtu (24/11/2007). Made juga menjadi yang terbaik di kelas 75 kg plus.
Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutannya ketika membuka event tersebut mengatakan bahwa binaraga di NTT masih dianggap sebagai olahraga yang mahal dan belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Namun, binaraga NTT, katanya, secara nasional sudah memiliki prestasi yang cukup tinggi.
"Binaraga di NTT sebenarnya sudah cukup diminati. Sebagai Wakil Ketua Umum KONI NTT, saya mengucapkan profisiat dan terima kasih kepada Pengprop PABBSI NTT yang berhasil menjalin kerjasama dengan Danrem 161 Wirasakti untuk menggelar event yang sangat penting ini. Saya minta kepada semua atlet agar mengerahkan semua potensi yang dimilikinya, agar bisa melahirkan prestas-prestasi yang bisa mengharumkan nama NTT di tingkat nasional," ujar Lebu Raya.
Sementara, Danrem 161 Wirasakti Kupang, Brigjen Arief Rachman dalam sambutan mengatakan bahwa dukungannya terhadap kejuaraan tersebut adalah karena dia tahu bahwa potensi para juara ada di NTT. "Ada bukti bahwa binaragawan-binaragawan NTT sudah berprestasi di tingkat nasional. Saya sebut saja, Made Dwija yang merebut medali perunggu Master Indonesia 2007. Ini adalah prestasi yang spektakuler yang membuat nama NTT cukup disegani di tingkat nasional," ujar Arief Rachman yang sudah dimutasi ke Mabes TNI namun karena belum ada penggantinya, maka dia tetap merangkap menjadi Danrem 161 Wirasakti Kupang.
Ketua Pengprop PABBSI NTT, Ir. Andre Koreh mengatakan bahwa kejuaraan tersebut diikuti oleh binaragawan-binaragawan terbaik di NTT. PABBSI, kata Koreh, merupakan organisasi resmi yang menaungi olahraga binaraga di Indonesia dan dunia. Untuk itu, dia mengatakan harapannya agar semua atlet potensial mau bergabung dengan PABBSI NTT untuk dibina lebih baik lagi. *
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar