Papu Barat Kalahkan PSKK 3-2

TIM Papua Barat untuk PON XVII 2008 mengalahkan PS Kota Kupang (PSKK) 3-2 dalam laga ujicobanya di Lapangan Polda NTT, Rabu (23/4/2008). Tiga gol Papua Barat dicetak oleh Ilham, Patrick dan Gery, sedangkan gol PSKK dicetak oleh Alderon dan Decky Kadja.
Dalam pertandingan yang dipandu Alberth Lisnahan ini, PSKK bermain cukup baik. Diperkuat beberapa 'pemain luar' seperti, Frans Sabon, Tadeus Wala, Thomas Gotha (PSN Ngada), Decky Kadja (Rote Ndao) dan Hery Nuwa (Perss SoE), PSKK bermain sangat disiplin. Namun, ketenangan yang ditunjukkan pemain-pemain Papua Barat membuat mereka lebih menguasai permainan.

Terbukti, kerja sama yang baik dari sayap membuat Ilham mampu mengirim umpan kepada Patrick untuk manaklukkan Dody Lisnahan ketika pertandingan belum genap sepuluh menit. Aksi brilian yang dilakukan Ilham kembali membuahkan gol beberapa saat kemudian.

Keunggulan 2-0 dari Papua Barat ini membuat PSKK berusaha menekan dengan memasukan Ferdy Pere menggantikan Hengky Patiwael. Pertandingan menjadi menarik, karena aksi-aksi yang dilakukan Tadeus Wala berhasil memancing pemain-pemain Papua untuk bermain keras. Hal ini membuat anak-anak asuhan Paul Cumming ini kehilangan konsentrasi menyusul dikeluarkannya kartu kuning untuk beberapa pemainnya dari Alberth Lisnahan. Dan, menjelang turun minum, Alderon membuat penonton bersorak dengan sebuah gol indahnya.

Babak kedua seharusnya menjadi milik PSKK. Berawal dari gol cepat Decky Kadja ketika pertandingan baru berjalan dua menit, anak-anak Papua Barat seperti tertekan. Buktinya, Patrick Wanggai harus menerima kartu kuning keduanya di pertandingan ini setelah dengan sengaja menendang wajah pemain PSKK, Marcel Bitol. Meski demikian, keunggulan jumlah pemain tidak membuat PSKK mendominasi permainan. Gery yang bermain sangat gemilang berhasil mencetak gol ketiga Papua Barat setelah melewati hadangan empat pemain PSKK.

Kedudukan 3-2 untuk Papua Barat bertahan hingga pertandingan usai. Pada, Jumat (25/4/2008), Papua Barat dan PSKK akan melakukan pertandingan ulang. (eko)
Lanjut...

Posted in Label: , | 0 komentar

NTT Siap Pertahankan Prestasi PON 2004

BERANGGOTAKAN 47 orang atlet dari cabang kempo, tinju, pencaksilat, atletik dan sepaktakraw saat ini tengah mengikuti pemusatan latihan tahap kedua di Kupang. Melihat persiapan yang dilakukan, KONI NTT mengatakan tekad untuk mempertahankan prestasi PON XVI 2004 yakni merebut delapan medali emas, empat perak dan empat perunggu.

Demikian Ketua Harian KONI NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si dalam rapat dengan pengurus cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota di Hotel Cahaya Bapa-Kupang, Kamis (17/4/2008). "Target ini realistis, meski cukup berat. Para atlet dan pelatih agar mempersiapkan diri lebih baik," ujar Esthon.

Esthon mengharapkan dukungan dari KONI kabupaten/kota terhadap atet yang mewakili NTT. "Saya harap KONI kabupaten/kota asal atlet harus mengambil peran dalam PON 2008. KONI kabupaten/kota bisa menyiapkan uang saku atau rangsangan dan bisa hadir di arena PON untuk memberikan dukungan langsung saat mereka bertanding," kata Foenay.

Foenay juga mengimbau agar para pengurus cabang olahraga dan KONI kabupeten/kota agar membenahi organisasi. Pembenahan organisasi sangat penting demi peningkatan prestasi, apalagi pada tahun 2009, POR Daratan akan digelar. Untuk POR Daratan, Esthon mengharapkan agar Belu (tuan rumah Pordat), Rote Ndao (Pordasar) dan Sikka (Pordafta) sejak dini merancang anggaran maupun sarana pendukung lainnya.

Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya pada kesempatan tersebut juga menegaskan pentingnya tertib administrasi bagi pengurus olahraga. "Organsisai olahraga termasuk KONI kabupaten/kota yang belum berjalan bagus harus segera dibenahi. Kita masih sering mengabaikan hal ini karena selalu beranggapan bahwa olahraga itu hanya ada di arena pertandingan. Kalau organisasi bagus, prestasi juga pasti akan bagus," ujarnya.

Lebu Raya mengharapkan agar semua pihak menghargai prestasi para atlet, meski jumlahnya sangat kecil. "Terkadang kita tidak tahu bagaimana perjuangan para atlet untuk menjadi juara. Pertanyaanya adalah, apa penghargaan yang sudah kita berikan kepada para atlet. Banyak di antara kita yang hanya menuntut atlet menjadi juara, tanpa melihat apa kebutuhannya. Bahkan, untuk menjemput mereka di bandara saat pulang bertanding pun tidak. Saya mau menantang kita semua untuk membuat kesepakatan tentang kepedulian mencapai dan menghargai prestasi," kata Lebu Raya. *

Bonus Untuk Tinju dan Atletik

PRESTASI atlet-atlet tinju NTT pada kejuaraan Sarung Tinju Emas (STE) awal bulan ini di Tabanana-Bali mendapat perhatian dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT. Yanto Fallo, Deni Hitarihun, Atris Neolaka dan Abniel Daniel yang merebut medali emas masing-masing menerima Rp 1 juta. Selain tinju, Dispora juga memberikan bonus kepada atlet atletik PPLP NTT, Afriana Paijo dan Sarce Nenokeba yang merebut medali emas dan perunggu pada Kejurnas Atletik Yunior dan Remaja awal bulan lalu.

Bonus diserahkan Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya di Hotel Cahaya Bapa-Kupang, Kamis (17/4/2008). Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, Kadispora NTT, Drs. Muhammad S Wongso, pengurus KONI Propinsi, Kabupaten/Kota dan cabang olahraga di NTT.
"Prestasi atlet-atlet ini harus dihargai, meski hanya sedikit. Berikan terus dukungan bagi mereka agar keharuman nama NTT terus berkumandang di Indonesia," ujar Lebu Raya.
Muhammad Wongso mengatakan, keempat petinju yang merebut medali tersebut adalah atlet PPLP binaan Dispora NTT. "Mereka adalah jebolan atlet-atlet PPLP NTT, sehingga kami sebagai pengelola juga ikut merasa bangga. Kalau saja ada PPLM, mungkin perhatian akan menjadi lebih, namun karena anggaran belum mencukupi, maka untuk saat ini belum terakomodir," ujar Wongso.

Kepada wartawan usai menerima bonus tersebut, Yanto, yang mewakili rekan-rekannya mengucapkan terima kasih. Yanto mengatakan dukungan seperti menambah motivasi mereka untuk meraih prestasi lebih tinggi. "Ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih siap," ujarnya. (eko)
Lanjut...

Posted in Label: , | 0 komentar

45 Taekwondoin NTT Lulus Ujian

SEBANYAK 45 dari 46 taekwondoin Pengurus Propinsi (Pengprop) Taekwondo Indonesia (TI) NTT lulus ujian kenaikan sabuk hitam (Dan) tingkat nasional. Ujian ini dilaksanakan di Aula Gereja Santu Yoseph Naikoten II Kupang, 11-13 April lalu.

Seksi Dokumentasi dan Humas Panitia Ujian Kenaikan Tingkat Pengprop TI NTT, Laurens Yohanes Boreel atau Tete Boreel, mengatakan hal itu saat mendatangi Redaksi Pos Kupang, Rabu (16/4/2008) pagi.

Dikatakannya, ujian tingkat nasional ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Kupang sejak Pengprop TI NTT berdiri 17 tahun lalu. "Ujian ini digagasi oleh seorang anggota panitia, Hans Ngongo Dan IV Kukkiwon/Internasional. Gagasan Hans Ngongo ini didukung oleh teman-teman panitia lainnya sehingga sepakat mendatangkan penguji tingkat nasional, yakni Mr. Yoyo Suryadi dan Suwandi (Dan IV Kukkiwon) dari Jogyakarta," kata Tete.

Peserta ujian kenaikan tingkat ini, jelas Tete, masing-masing dari Belu 19 orang, Sumba Timur dua orang, Sikka satu orang, Pelatda PON tujuh orang, Kupang 13 orang dan TTU empat orang.
Tete mengharapkan dukungan Pengprop TI NTT untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya sehingga TI NTT bisa maju. "Selama ini, ujian semacam ini dilaksanakan di luar NTT sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar," kata Tete.*

Rincian Peserta Ujian Kenaikan Tingkat:
* Geup I ke Dan I 38 orang
* Dan I ke Dan II 1 orang
* Dan II ke Dan III 7 orang
* Yang lulus 45 orang
* Tidak lulus 1 orang
* Peserta terbaik: Fernando da Silva dan Gatot Rulyanto (Belu).
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Atletik NTT Tambah Dua Atlet ke PON 2008

PENGURUS Besar PB PASI (atletik) akhirnya menerbitkan keputusan tentang jumlah atlet yang akan berlaga pada PON XVII 2008. Dari 300 orang atlet yang ditetapkan tersebut, NTT menambah dua orang atletnya, yakni Niko Silla (lari) dan Tersiana Riwu Rohi (jalan cepat) mendampingi Mery Paijo dan Adriana Waru yang sudah lebih dulu lolos. Demikian diinformasikan oleh Ketua Komisi Data dan Prestasi Pengprop PASI NTT, Ary Mulyadi di Kupang, Selasa (4/3/2008).

"Keputusan dari PB PASI ini adalah final dan tidak bisa dirubah lagi. Sejak kualifikasi lalu, sebenarnya sudah diketahui bahwa Niko dan Tersiana lolos ke PON, namun karena belum ada SK dari PB, maka PASI NTT belum berani mengumumkannya. Saya mau jelaskan bahwa Tersiana dan Niko lolos bukan atas dasar kuota dari PB PASI, tetapi karena mereka berprestasi. Niko dan Tersiana sama-sama merebut medali perunggu saat pra PON. Jadi kedua atlet ini benar-benar lolos karena prestasi di kualifikasi dan bukan karena jatah apalagi kuota dari PB," jelas Ary Mulyadi.

Mengenai persiapan Niko dan Tersiana, Ary Mulyadi mengatakan bahwa keduanya sangat siap. "Sejak awal tahun 2008 ini, Niko dan Tersiana sebenarnya sudah berlatih bersama Mery dan Adriana di bawah asuhan pelatih Pelatda PON. Artinya, dari sisi kesiapan tidak ada masalah, karena mereka sudah berlatih sesuai program pelatihan yang ada," jelasnya.

Ary yang juga Sekretaris Tim Pemantau Pelatda PON XVII 2008 itu, mengatakan, dengan lolosnya Niko dan Tersiana berarti jumlah atlet NTT yang lolos menjadi 47 orang.

Untuk diketahui, Tersiana Riwu Rohi adalah pemegang rekornas nomor jalan cepat 20 Km yang dicatatnya sejak tahun 2001 lalu. Sementara Niko Sila pada awal Desember 2007 lalu menempati posisi kedua tingkat Asia Tenggara dalam kejuaraan marathon di Singapura. **
Lanjut...

Posted in Label: , | 0 komentar

Pelatda NTT Harus Dibenahi

BERDASARKAN hasil pantauan tim teknis dan pemantau, pelaksanaan pemusatan latihan daerah (Pelatda) PON XVII 2008 harus dibenahi. Pembenahan harus dilakukan baik dari sisi teknis maupun sarana prasarana latihan. Hal tersebut terungkap dalam rapat evaluasi tim pemantau Pelatda PON XVII 2008 di Sekretariat KONI NTT di Kupang, Selasa (26/2/2008). Rapat dipimpin Ketua Tim Pemantau, Drs. Hosea Dally dihadiri para anggota, Drs. Nurdin Badu. M.For, Drs. Lambert Tukan, MM, Ary Mulyadi, Sipri Seko dan Marthen Luther Bana.

Menurur Hosea Dally, hal-hal teknis yang perlu dibenahi adalah program latihan para pelatih cabang olahraga yang belum teratur dan lainnya. Sementara yang harus dilengkapi, kata Dally, adalah peralatan latihan, tempat latihan dan sparing partner. "Ada beberapa cabang olahraga yang program latihannya tidak jelas. Ada yang punya program latihan, namun pelatihnya tidak tahu menerjemahkannya," katanya.

Sementara mengenai peralatan latihan, menurut Hosea Dally, hampir semuanya sudah tidak memadai. Ia menyebutkan bahwa hampir semua cabang masih menggunakan peralatan manual, padahal di event nasional, semuanya sudah menggunakan teknologi dengan sistem digital. "Di tinju misalnya, mereka mengeluh karena perlengkapan yang dipakai sudah tidak layak lagi. Sementara di atletik, mereka tidak memiliki lintasan untuk berlatih karena Stadion Oepoi sementara dalam rehabilitasi," kata Dally.

Sementara untuk sparing partner, kata Dally, yang harus diperhatikan bukan saja kelayakannya, namun kesejahteraannya. "Bagaimanapun semua atlet harus memiliki sparing partner. Pertanyaan mereka adalah, apakah mereka juga mendapatkan multivitamin, uang transport dan lainnya atau tidak," kata Dally.

Terkait hal tersebut, kata Dally, tim pemantau akan mengadakan pertemuan dengan Pengurus KONI NTT dan pelatih cabang olahraga di Sekretariat KONI, Kamis (28/2/2008). "Ada beberapa rekomendasi yang akan kami ajukan. Rekomendasi-rekomendasi ini konsekuensinya adalah tambahan dana, namun kalau ingin berprestasi, saya pikir Pemprop NTT harus menambah alokasi dananya. Kita tidak bisa menuntut prestasi dalam keadaan seperti ini," tegas Dally. (eko)
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar